Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
Berlatihlah untuk bicara secukupnya. Hentikan pembicaraan walau masih ingin karena yang penting adalah perlu dan manfaat yang dirasakan orang lain, bukan keinginan kita berbicara.
Kalau ingin bicara, ingat rumus BMT ? B-nya adalah benar, M-nya adalah manfaat dan T-nya adalah tak menyakitkan. Oleh karena itu, jika dengan hasrat bicara memenuhi rumus tadi, insyaAllah bicara kita akan membawa maslahat. Namun, jika tidak benar, bicara adalah kebohongan yang tercatat sebagai kedzaliman. Jika tidak manfaat bicara adalah kesia-siaan yang tercatat sebagai ke mudharat. Dan jika tidak menyenangkan orang lain bicara adalah kedzaliman yang tercatat sebagai laknat.
Terampil berbicara memang memerlukan pelatihan, apalagi berbicara di depan umum. Ada rumus untuk hal ini yaitu TENSOFALES yang artinya Tenang Sopan Fasih Lembut dan Secukupnya. Orang yang tenang akan mudah mengatur kata-katanya serta memilih kalimat yang terbaik. Orang yang sopan manakala berbicara juga akan menarik lawan bicara untuk menaruh hormat kepadanya. Orang yang fasih dalam berbicara, terutama dimuati ilmu dan pengalaman lebih disenangi oleh para pendengarnya (Perhatikan bahwa kita senang sekali jika ada orang asing, misalnya dari Amerika, begitu fasih berbahasa indonesia. Kita cenderung bangga dan senang mendengarnya). Orang yang lembut juga cenderung disukai daripada berbicara meledak-ledak tidak pada tempatnya. Lalu yang terakhir, lawan bicara atau pendengar kita lebih menyukai bicara yang secukupnya daripada yang berlebihan, apalagi sudah ngalor ngidul tidak karuan.
Cara berlatih efektif adalah menghemat betul energi dan kata-kata kita. Jangan bernafsu terus bicara karena ingin. Kalau sudah pas, kemudian ada manfaat yang dirasakan, sudahi saja karena bicara yang terlalu panjang cenderung membuka topik ke bidang lain. Kalau topik sudah berkembang, waktu pun akan terbuang dan salah-salah kita masuk ke wilayah ghibah bahkan fitnah. Na’udzubillah min dzalik.
“Sesungguhnya Allah melarangmu banyak omong, yang diomongkan dan menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya”
HR. Ash-Shihab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar